Tanggapan
Ulasan Pentas Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah
Oleh
: Wahyu Danang Wicaksono
Esai yang di buat saudara Muchammad Irfan Fauzani mengenai ulasan
pertunjukan teater yang diadakan di Universitas PGRI Semarang sangat bagus. Di
awal tulisannya dia menceritakan mengenai suasana pertunjukan teater yang
pertama yang berjudul Jaka Tarub. Di awal mula cerita saudara irfan
menceritakan mengenai permainan cahaya panggung yang lumayan menyeramkan,
sehingga semua penonton merasa tercekam. Dilanjutkan dengan cerita Jaka Tarub
yang diawali dengan adegan Jaka Tarub yang setiap malam bulan purnama dia tidur
dengan dipan di depan rumahnya. Tokoh yang memerankan bapak daripada putrinya
Nawangsih ini pada keesokan hari tiba-tiba berteriak “ Nawang-Nawang”. Jaka
Tarub bermimpi bahwa putrid semata wayangnya akan pergi meninggalkannya. Lalu
putrinya Nawangsih keluar dan datang menemui bapaknya untuk membangunkannya.
Jaka tarub pun terbangun, dia sangat lega karena itu semua hanya mimpi. Lalu
agar bapaknya tidak mengingat mimpi itu, Nawangsih mengajak Jaka Tarub pergi ke
sebuah telaga.
Di telaga Jaka Tarub dan putrinya sangat senang bisa melihat pemandangan
yang indah, mendengarkan gemericik air dan suara burung-burung yang berkicauan.
Dibalik kesenangan Jaka Tarub, masih terlintas pikiran mengenai mimpinya tadi
pagi. Jaka Tarub takut kalo nanti mimpi itu jadi kenyataan. Akhirnya Jaka Tarub
mengajak putrinya untuk pulang ke rumah. Sampai di rumah putrinya langsung
masuk, lalu Jaka Tarub teringat kembali mimpi itu. Dirinya tidak akan
menceritakan mimpi itu kepada Nawangsih. Dia lebih baik menyimpan mimpi itu,
dia takut kalo mimpi itu menjadi kenyataan.
Di saat pertengahan adegan, tiba-tiba cahaya di panggung mati. Jaka
Tarub yang tadinya tua, kini menjadi remaja. Ternyata alur yang dipentaskan ini
adalah alur maju dan alur mundur. Jaka Tarub remaja tidur didipan rumahnya,
ternyata itu sudah menjadi kebiasaan Jaka Tarub. Ia bermimpi bahwa dia akan
bertemu dengan bidadari cantik dari khayangan dan akan menikah dengan bidadari
tersebut. Jaka Tarub terbangun sambil tarik nafas panjang, ia sangat bingung
dengan mimpi itu. Kegiatan Jaka Tarub saat remaja adalah berburu dan bermain
dengan temannya. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-harinya dia berburu ikan
di sungai, danau, dan telaga. Pada suatu saat Jaka Tarub berburu di hutan, di
hutan itu terdapat sebuah telaga. Tanpa sengaja dia melihat tujuh bidadari yang
sedang mandi di telaga tersebut. Karena terpikat Jaka Tarub mengambil selendang
warna oranye yang disampirkan oleh salah satu milik bidadari tersebut. Ketika
tujuh bidadari tersebut selesai mandi, mereka berdandan dan siap kembali ke
khayangan. Salah seorang bidadari bernama Nawangwulan tidak mampu ikut kembali
ke kahyangan karena tidak menemukan selendangnya. Ia pun akhirnya ditinggal
pergi oleh kawan-kawannya karena hari sudah beranjak senja.
Jaka Tarub lalu muncul dan berpura-pura menolong. Dewi Nawangwulan pun
bersedia ikut pulang ke rumah Jaka Tarub dan singkat cerita, Dewi Nawangwulan
menyetujui lamaran Jaka Tarub dan akhirnya menikah. Dari pernikahan ini
lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah,
Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak sekali-kali menanyakan
rahasia kebiasaan dirinya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia tersebut adalah
bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi menggunakan hanya sebutir beras dalam
penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran
tidak menanyakan tetapi langsung membuka penanak nasi tersebut. Akibat tindakan
ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya
wanita biasa.
Akibat hal ini, persediaan persediaan
gabah di lumbung jadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit,
Nawangwulan menemukan selendang miliknya yang ternyata disembunyikan sendiri
oleh suaminya. Nawangwulan yang marah mengetahui kalau suaminya yang selama ini
telah menyembunyikan selendangnya meninggalkan jaka tarub dan kembali ke khayangan.
Hanya saja, pada waktu-waktu tertentu ia rela datang ke telaga awal mula
nawangwulan turun ke bumi. Pada untuk menyusui bayi Nawangsih. Nawangwulan
memerintah Jaka Tarub untuk membangun sebuah dangau. Setiap malam bulan purnama,
Nawangsih harus diletakkan disana agar Nawangwulan dapat menyusuinya tanpa
harus bertemu dengan Jaka Tarub. Jaka Tarub hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Hanya bisa melihat dari jauh saat Nawangwulan turun dari kahyangan untuk
menyusui Nawangsih. Ketika Nawangsih tertidur.
Dari
pementasan pertama saudara Irfan menuliskan ceritanya sesuai dengan ceritanya,
hanya saja dirinya tidak menambahkan dialog tokoh di dalam esainya. Mengenai
pementasan teater yang kedua yang merupakan jenis teater monolog, saudara Irfan
sudah bagus dalam menjelaskan ceritanya yang berjudul “ Monolog Balada
Sumarah”. Dia dapat menjelaskan maksud dari setiap ucapan tokohnya yang hanya
diperankan oleh satu tokoh. Dalam pementasan yang kedua saudara Irfan
menceritakan seorang TKW yang bekerja di luar negeri. TKW tersebut bernama Sumarah. Kata tetangganya
Sumarah itu mempunyai keluarga PKI dulunya. Terutama ayahnya. Hingga akhirnya
sumarah dikucilkan oleh masyarakat setempat, ia pun setelah lulus sekolah ia
tidak bisa mendaftar pekerjaan di Indonesia. Ia ingin meminta surat permohonan
pembersihan diri di kecamatan pun tidak bisa. Sumarah merasa tidak menemukan
keadilan di negeri sendiri. Akhirnya Sumarah memutuskan pergi ke luar Negeri.
Ketika
di luar Negeri, Sumarah bekerja menjadi Pembantu. Walaupun ia sudah diterima
bekerja diLuar Negeri, tetapi ia masih belum menemukan keadilan yang semestinya
orang dapat. Sumarah di siksa oleh majikannya, hingga diperkosa. Sumarah
akhirnya amarah, sumarah membunuh majikannya. Dan pilu menanggung beban hidup
yang dideritanya. Akhir kisah Sumarah gantung diri.