Rabu, 21 Oktober 2015



ULASAN  PAGELARAN WAYANG KAMPUNG SEBELAH
“MAWAS DIRI MENAKAR BERANI”


Bagian Pemilu
Eyang Sidik Wacono memimpin penghitungan suara pilkades. Mendadak papan tulis untuk mencatat penghitungan suara hilang. Parjo selaku kepala keamanan ditanya tidak tahu. Begitu pun Sodrun ketika ditanya malah salah persepsi merasa dituding sebagai biang hilangnya papan tulis. Usut punya usut, papan tulis itu ternyata disimpan kembali oleh Suto Coro sebagai kepala rumah tangga kelurahan. Ia tidak merasa bersalah menyimpan kembali papan tulis itu karena panitia menggunakan peralatan kantor kelurahan tanpa seijin dia. Terjadi perdebatan sengit antara Suto Coro dan Mbah Sidik yang berakhir Parjo memberikan hasil penghitungan suara yang sudah dilakukan saat Eyang Sidik Wacono sibuk berurusan dengan papan tulis. Eyang Sidik lantas membacakan hasil penghitungan suara yang menempatkan Somad sebagai pemenang pilkades. Somad diminta menandatangani berita acara penetapan pemenang, sambil secara tersamar Mbah Sidik meminta bonus upaya pemenangan kepada Somad. Parjo mempertanyakan posisi Mbah Sidik yang sebagai panitia ternyata diam-diam berafiliasi kepada salah satu kontestan. Jika ketahuan orang maka akan menuai masalah. Eyang Sidik sudah siap dengan resiko itu, siapa pun yang memprotes tindakannya akan dilabraknya.

Bagian Kerusuhan
Sederetan artis berkiprah di atas panggung menghibur penonton yang memadati acara tasyakuran Lurah Somad. Tiba-tiba Jhony naik ke atas panggung. Ia berorasi mengecam dan memprotes kemenangan Lurah Somad yang dianggap penuh kecurangan. Apa jadinya desa ini jika dipimpin oleh orang yang sejak berangkat meraih jabatan telah menghalalkan kecurangan. Kelak saat memimpin pun nicaya akan tega melakukan tidakan buruk untuk kepentingannya sendiri. Jhony mempengaruhi massa agar bergerak menegakkan kebenaran dan keadilan dengan menggagalkan hasil pilkades yang memenangkan Somad.
Kampret yang mabuk merasa terusik kesenangannya atas ulah Jhony. Ia segera naik ke atas panggung meminta Jhony berhenti ngoceh, agar kemudian hiburan dangdut dilanjutkan. Jhony marah menuding Kampret sebagai pendukung Somad yang tidak terima atas protesnya. Ia pun menantang Kampret berkelahi. Tapi pemuda sang pemabuk itu menanggapi dengan senyum sinis. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak mendukung siapa pun. Dirinya adalah sang pemabuk netral. Jangankan pendukung fanatik salah satu calon, ia mencoblos pun tidak. Sebaliknya Kampret menuding Jhony yang semangat demo karena dibayar. Orasinya bukan berangkat dari misi murni menyuarakan kebenaran, melainkan menjalani profesi sebagai makelar kasus. Jhony tak lebih sosok aktivis yang suka menari di atas luka. Memangnya Pak Klungsur dan kontestan yang lain itu orang bersih, tidak bermoney politik? Intinya Jhony berteriak-teriak itu hanya membela uang. Sama dengan Pak Klungsur, Pak Somad dan calon-calon lain yang kalau mau jujur, mereka berebut kekuasaan bukan untuk mengejar pengabdian, tak lebih hanya mengejar uang dan kekayaan. Antara Jhony dan elitis yang ia bela, sama-sama orang biadab yang demi segepok uang tega merekayasa konflik dan kerusuhan. Tega menjerumuskan orang kecil menjadi kayu bakar demi ambisi liar. Jika nanti terjadi huru-hara, banyak orang terluka, banyak fasilitas umum rusak, memangnya Jhony, Somad dan Klungsur mau bertanggung jawab?
Jhony yang merasa terdesak dalam perdebatan itu langsung menyerang Kampret. Perkelahian keduanya memicu tawur massa.

Bagian Mawas Diri
Karyo mendatangi Pak Gendut seorang anggota polisi, Mbah Modin, Pak Somad, dan Parjo, para tokoh masyarakat yang tengah berada di lokasi kerusuhan memantau situasi. Karyo langsung nyemprot para tokoh itu yang tidak bergerak apa-apa bahkan seakan menikmati kerusuhan yang sedang terjadi. Pak Gendut didesak supaya segera bergerak meredam kerusuhan.

“Dengan cara bagaimana?” tanya Pak Gendut.

“Lho kok malah tanya saya? Kalau saya yang harus jawab, Pak Gendut lepas seragam saja biar saya pakai! Ya dengan segala cara apa pun yang penting kerusuhan berhenti,” jawab Karyo.

Tidak semudah itu. Menghentikan kekerasan mustahil tanpa cara tegas dan keras. Memangnya menghentikan kerusuhan cukup dengan pidato atau memohon-mohon? Tapi kalau menggunakan cara tegas dan keras, polisi harus berhadapan dengan pasal-pasal HAM. Polisi akan dihujat dan disalahkan oleh siapa saja karena menggunakan kekerasan. Polisi bergerak salah, tidak bergerak juga salah. Terus terang, di negara ini polisi pun hanya bisa serba salah.

Karyo bingung. Ia mendesak pak Somad sebagai lurah yang baru harus bisa mengendalikan situasi. Pak Somad pun berkilah, karena ia pejabat baru maka belum menguasai medan. Ia perlu mempelajari situasi dan kondisi terlebuh dahulu, berkoordinasi, baru bisa menentukan tindakan yang harus diambil.

“Waaaa… rakyate selak modar, Pak!” teriak Karyo. Calon pemimpin sebelum berkuasa itu seharusnya sudah lebih dulu menguasai masalah, bukan berkuasa dulu baru mempelajari masalah. Kalau sikap dan pola pikir calon-calon pemimpin di negeri ini seperti itu, mustahil ada pemimpin yang benar-benar menguasai masalah dan mampu menyelesaikannya. Kaderisasi pemimpin di negara ini memang benar-benar bermasalah.

Karyo lantas bepaling ke Mbah Modin, sesepuh agama desa Bangunjiwo itu diminta meredam kerusuhan. Sebab sebagian yang bergerak memicu huru-hara itu orang-orangnya Mbah Modin.

Mbah Modin berkilah, bahwa itu aspirasi mereka umat yang ingin menegakkan kebenaran. Jadi ia tidak bisa menyetir umatnya yang bergerak karena mereka mengikuti kata hati membela kebenaran.
Benarkah? Betulkah ratusan hingga ribuan kepala serempak punya rasa dan pikiran yang sama? Tidak! Tidak ada gerakan massa terarah tanpa desain. Siapa yang mendesain? Untuk apa Mbah Modin mendesain gerakan anarkhistis? Bukankah agama apa pun mengajarkan mengedepankan cara-cara jernih dan damai? Intinya, Karyo tahu bahwa Mbah Modin sudah tidak bisa berbuat apa-apa karena ia menjadi bagian dari masalah yang terjadi.
Terakhir Karyo berpaling kepada Parjo yang anggota TNI, agar ambil inisiatif bergerak meredam kerusuhan. Parjo berkilah, bukan ranah tugas dan wewenangnya. Tugas dan wewenangnya ada di wilayah pertahanan dan keamanan negara. Urusan kamtibmas adalah job desknya kepolisian. TNI hanya punya wewenang memback up, artinya ia bergerak membantu polisi kalau ada permintaan dari pihak kepolisian. Jika bergerak sendiri, TNI akan menyalahi prosedur dan tentu akan dipersalahkan oleh semua orang. Karyo sudah benar-benar tak habis pikir. Di kerusuhan itu, rakyat saling berbenturan. Setiap saat nyawa mereka bisa melayang tanpa mau menunggu keputusan rapat-perdebatan prosedur hukum.


“Itulah jenis kelamin demokrasi kita saat ini, Lik!” cetus Kampret yang tiba-tiba muncul di perbincangan. Demokrasi yang tidak mempermudah penyelesaian masalah tapi justru memperumit penyelesaian masalah. Lagian, lha wong Pak Somad, Mbah Modin, Pak Gendut dan Mas Parjo itu orang-orang yang cari selamat kok disuruh menyelamatkan orang. Bagaimana bisa? Demokrasi di negeri ini sebatas mengajak orang melihat betapa nikmatnya kekuasaan, bukan betapa beratnya kekuasaan. Logikanya, orang cenderung menghindar dari pekerjaan-pekerjaan berat. Anehnya kita berkelahi mati-matian untuk memperebutkan pekerjaan yang berat. Betapa hebatnya bangsa ini yang ternyata dipenuhi manusia-manusia super yang berebut siap menanggung beban beratnya kekuasaan.

            Yang benar, mungkin bangsa ini sedang nyenyak bermimpi. Bermimpi berdemokrasi, bermimpi bernegara, bermimpi menjadi bangsa besar. Semua itu baru sebatas mimpi. Faktanya kita belum bisa berdemokrasi, kita belum bisa bernegara, kita belum bisa berdaulat, kebanyakan warga bangsa dan rakyat kita masih mudah tunduk dipermainkan kepentingan asing maupun elitis negeri yang sesat. Kita punya Pancasila, tapi silau dengan demokrasi liberal yang tidak kita mengerti. Kita punya NKRI tapi tak mengerti makna NKRI sehingga kita mudah pecah, mudah terbelah, dan mudah berkhianat tehadap bangsa dan negara.

           

Selasa, 20 Oktober 2015

Catatan Film Soekarno
Soekarno adalah sebuah film produksi Raam Punjabi yang di Sutradarai Hanung Bramantyo. Yang menceritakan tentang kehidupan bapak soekarno. Rakyat Indonesia pasti tahu siapa bapak soekarno. Ya soekarno adalah bapak proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia. Dibalik cerita film ini banyal hal-hal positif yang dapat diambil.
         Dikisahkan seorang anak kecil yang bernama kusno, karena sering sakit diganti oleh ayahnya dengan nama soekarno(Ario Bayu). Yang berharap agar kelak menjadi ksatria layaknya tokoh pewayangan Adipati karno. Harapan bapaknya terpenuhi umur 24 tahun soekarno berhasil menguncang podium, berteriak : kita harus merdeka sekarang!!! Akibatnya dia harus dipejara selama 4 tahun. Dia dituduh menghasut dan memberontak. Tapi keberanian soekarno tidak pernah padam. Setelah dia bebas dari penjara dia di Asingkan ke Bengkulu. Sukarno istirahat sejenak dari dunia politiknya. Hatinya berlabuh pada muda bernama fatmawati(Tika Bravani). Padahal sukarno masih menjadi suaminya inggit Garnasih(Maudy Koesnaedi), perempuan yang selalu mendampinginya dipenjara maupun di pengasingan. Kini, inggit harus rela suaminya jatuh cinta kepada fatmawati. Ditengah kemelut rumah tangganya, jepang dating mengobarkan perang Asia Timur Raya. Birahi politik soekarno bergelora. Hatta dan sjahrir, rival politik soekarno, mengingatkan bahwa jepang tidak kalah hebatnya dengan belanda. Tapi soekarno punya keyakinan, jika kita cerdik, kita bisa memanfaatkan jepang untuk meraih kemerdekaan. Hatta terpengaruh tapi sjahrir tidak. Kelompok pemuda mencemooh soekarno-hatta sebagai kolabolator.keyakinan soekarno tak goyah dia tetap dengan pendiriannya. Hingga soekarno dapat mewujudkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.                                                                                                     
          Film yang dirilis pada 11 Desamber 2013 lalu ini bukanlah film politik, tetapi film drama keluarga. Yang dibalut dengan latar belakang kehidupan bapak soekarno . dan ini adalah sebuah film, memiliki pandangan yang berbeda dengan kehidupan soekarno sesungguhnya. Dengan memasukkan beberapa unsur Adegan komedi di dalamnya menambah lebih sempurna film ini. Sosok soekarno sampai saat ini masih dikenang oleh masyarakat. Sang sutradara hanung bramantyo mencoba menggambarkan kisah soekarno ini dengan meyakinkan penonton dengan latar tempat era tahun 40,an. Jika anda belum mengetahui siapakah soekarno, di film ini memiliki jawabannya. Karena film ini mengupas kehidupan dari kecil sampai dapat menjadi bapak proklamator kemerdekaan Indonesia. Itu adalah nilai tambah lain untuk film dari Raam Punjabi yang satu ini. Jadi keputusan menonton film ini ada di tangan anda.




Rabu, 14 Oktober 2015

MENGANCAM KENANGAN
‘’Mungkin yang kekal selain tuhan adalah kenangan’’     
Oleh wahyu danang wicaksono       
Festival Bulan Bahasa di isi oleh pertunjukan teater Tikar di UNIVERSITAS PGRI SEMARANG, yang mengusung pertunjukan (Drama Teater) dengan judul “mengancam kenangan” di sutradarai Ibrahim. Kamis 8 oktober 2015, di Aula Gedung Pusat Lantai 7 UNIVERSITAS PGRI SEMARANG.
               Ingatan di pikiran kita yang selalu tersimpan di dalam hati,jiwa dan pikiran kita menciptakan kenangan.sehingga kita menciptakan kenangan.sehingga kita akan selalu mengenang setiap kenangan yang kita buat menjadi sejarah yang tidak dapat kita ulang kembali.
              Cerita yang diusung oleh Ibrahim mengajak penonton untuk menilai kenangan secara obyektif menyimpan ingatan masing-masing tentang kenangan.Sutradara berusaha menjelaskan tentang penguraian lilitan kenangan menjadi semacam usaha mendirikan kenangan agar dia sejajar keberadaannya dengan mahluk maupun benda. Dan berharap agar menyikapi kenangan secara bijak.
REALITAS HIDUP :
            Pertunjukan diawali dengan suasana yang hening di munculkan melalui kehadiran seorang tokoh perempuan setengan tua menggenggam gagang sapu yang tidak gemetar untuk menyapu kerikil-kerikil di ubin teras rumahnya.pagi mengucapkan selamat pagi pada dirinya.sedangkan perempuan tua itu sudah terlalu asik untuk membersihkan teras rumahnya.kemunculan adegan tersebut terus terang membuat para penonton bertanya-tanya di dalam batinnya. sehingga  penonton semakin penasaran untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sehingga membuat penonton semakin serius dan antusias menonton. kebingungan penonton terjadi saat saat melihat tiga orang berpakaian aneh mengunakan baju bercorak dan berwajah putih menyapa perempuan tua itu dengan sebutan nyonya dengan mengucapkan kata selamat pagi. Itu bukti bahwa sutradara yang sekaligus sebagai penulis naskah mengajak penonton untuk lebih menikmati pertunjukan yang di pertunjukan agar lebih fokus da;lam menonton adegan tersebut. Karena penonton di buat kebingungan siapa ketiga orang tersebut karena mereka berpakaian aneh seperti hantu yang menakuti manusia mereka satu persatu dengan pertanyaan yang sama ‘’nyonya mengapa setiap hari kau usap pigura yang tidak bicara itu..? Lebih baik kau bicara padaku saja. Aku pasti bisa mendengarmu dengan baik, bahkan lebih baik dari pigura-pigura itu”. Ditambah dengan sentuhan musik yang merdu membuat hati penonton untuk menikmati cerita.
          Beranjak dari proses adegan itu penonton mengetahui bahwa tiga orang tersebut memiliki peran sebagai bisik-bisik ingatan kenangan pagi yang berusaha mengoda agar nyonya itu membenci dan memusuhi kenangan masalalunya. Perumpamaan Bak mandi sebagai ancaman kenangannya membuat penonton beranggapan bahwa Bak mandi menyimpan ingatan sang nyonya yang begitu besar terhadap kenangan masalalunya. Itu di buktikan dengan raut wajah dan tetesan tangisan air mata dari wajah sang nyonya. Namun begitulah yang disebut masa lalu tidak mungkin seseorang dapat mengulang kenangannya.
MENGANDUNG MAKNA KEHIDUPAN :

         Potret kehidupan seseorang pasti berbeda itu di buktikan dengan adanya setiap dialoq yang di pentaskan. Sehingga sangat berpotensi menggiring penonton untuk melihat diri mereka sendiri. Walaupun begitu di cerita sang nyonya tetap gigih pendiriannya untuk tidak memusuhi kenangan yang sudah dilaluinya baik buruk maupun baiknya. Dari itu penonton dapat memilih prinsipnya masing-masing menyimpan atau menghapus ingatan kenangannya. Dan akhir, pertunjukan diakhiri dengan kemenangan sang tokoh dalam melawan amarah kenangannya, Sehingga membuat penonton terpukau dengan akhir cerita dan dapat memetik makna dari kata-kata terakhir sang tokoh yang berkata ‘’yang kekal dari dunia ini selain Tuhan, hanyalah kenangan…’’ Itulah yang dapat di petik dari sisi positif pertunjukan teater mengancam kenangan.